Sebut
saja dalam teori musikalisasi, harmonisasi terbentuk hingga terdengar sendu, menurut
seniman ternama S. Hardjana, selain karena watak atau karakteristik dari sebuah
nada, juga karena komposisi nada yang
tercipta begitu teratur dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang sesuai dengan ruang lingkup dan sistem alam
yang cenderung mengikuti kebiasaan iklim di setiap tempat. Seperti mengunyah
makanan, pembawaan klasik lebih cenderung hati-hati dan kental menentramkan. Bahkan
beberapa ahli seni mengutip Ludwig, seorang jenius yang hasil karyanya akrab di
telinga, klasik membuka informasi dunia semesta
yang luar biasa. Terlepas dari berbagai opini yang terus berkembang, musik
klasik diyakini mempengaruhi tingkat kecerdasan pada seorang bayi yang bahkan
belum terlahir sekalipun, seandainya orang tuanya tersebut intensif
memperdengarkan lagu-lagu klasik pada masa dalam kandungan.
Quantum learning, sebuah model tradisi membentuk cara belajar yang menggairahkan
dan menyenangkan secara sederhana menyimpulkan, corak klasik yang tenang,
sungguh sangat mempengaruhi kerja otak saat bekerja. Hasil penelitian menggambarkan,
dengan diiringi musik, gelombang otak pun cenderung selalu siap untuk menerima
informasi yang berserakan. Bahkan lebih
jauh disinyalir kerja jantung pun lebih teratur dan menentramkan. Dan tentu
saja sekali lagi menejemen waktu termasuk menyisipkan unsur estetika seni selalu sesuai dengan besar
kecilnya aktivitas yang dijalani. Bahkan belum ada penelitian pun yang
menyimpulkan secara mutlak bahwa tanpa estetika seni, tingkat kecerdasan,
suasana kehidupan, maupun harmonisasi atau keseimbangan hidup di bawah
rata-rata. Namun satu hal yang pasti, perilaku estetika seni selalu
membangkitkan suasana kejiwaan dan tentunya menyenangkan. Dan tentu saja
kecerdasan hati sejak dulu selalu menjadi topik yang menarik di dunia industri
informasi sebagai sebuah referensi bahkan sebagai model leadership dalam menjalankan sebuah projek besar sekalipun.
Dunia, selain semakin tua, kini, menurut Prof. Dr. D. Hawari seorang psikiater ternama, dunia sedang memasuki
era yang sungguh sangat luar biasa. Diantara produk modernitas abad kini,
stress, depresi, atau tekanan kejiwaan beserta anatomis biologis yang lemah, yang
berwatak irasionalitas dan inharmonis, ternyata bukan hanya melanda kaum
mayoritas dewasa semata, ternyata anak belasan tahun pun sudah mengalaminya. Ini
memang memprihatinkan. Selain karena faktor genetitas dan perjalanan riwayat
kehidupannya, stressor atau depresan, bukan hanya saja sebagai sesuatu yang dianggap
maklum dan dianggap biasa, ternyata juga bisa diobati. Tradisi religiusitas
yang akrab ditelinga, kullu daain
dawaaun, setiap penyakit selalu ada obatnya. Menejemen aktivitas dan waktu
yang baik, asupan gizi yang cukup empat sehat lima sempurna, hidup
bermasyarakat, tidak jauh dari kehidupan spiritual, tidur yang cukup tujuh atau
delapan jam sehari, berolah raga yang teratur, bekerja sesuai dengan kemampuan,
kiranya sungguh sebuah komposisi nada yang cukup ‘wah’. [af]