Statistik Blog

Selasa, 23 Juli 2013

‘Wah’



Sebut saja dalam teori musikalisasi, harmonisasi terbentuk hingga terdengar sendu, menurut seniman ternama S. Hardjana, selain karena watak atau karakteristik dari sebuah nada, juga  karena komposisi nada yang tercipta begitu teratur dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang  sesuai dengan ruang lingkup dan sistem alam yang cenderung mengikuti kebiasaan iklim di setiap tempat. Seperti mengunyah makanan, pembawaan klasik lebih cenderung hati-hati dan kental menentramkan. Bahkan beberapa ahli seni mengutip Ludwig, seorang jenius yang hasil karyanya akrab di telinga, klasik membuka informasi dunia semesta  yang luar biasa. Terlepas dari berbagai opini yang terus berkembang, musik klasik diyakini mempengaruhi tingkat kecerdasan pada seorang bayi yang bahkan belum terlahir sekalipun, seandainya orang tuanya tersebut intensif memperdengarkan lagu-lagu klasik pada masa dalam kandungan. 

Quantum learning, sebuah model tradisi membentuk cara belajar yang menggairahkan dan menyenangkan secara sederhana menyimpulkan, corak klasik yang tenang, sungguh sangat mempengaruhi kerja otak saat bekerja. Hasil penelitian menggambarkan, dengan diiringi musik, gelombang otak pun cenderung selalu siap untuk menerima informasi  yang berserakan. Bahkan lebih jauh disinyalir kerja jantung pun lebih teratur dan menentramkan. Dan tentu saja sekali lagi menejemen waktu termasuk menyisipkan unsur  estetika seni selalu sesuai dengan besar kecilnya aktivitas yang dijalani. Bahkan belum ada penelitian pun yang menyimpulkan secara mutlak bahwa tanpa estetika seni, tingkat kecerdasan, suasana kehidupan, maupun harmonisasi atau keseimbangan hidup di bawah rata-rata. Namun satu hal yang pasti, perilaku estetika seni selalu membangkitkan suasana kejiwaan dan tentunya menyenangkan. Dan tentu saja kecerdasan hati sejak dulu selalu menjadi topik yang menarik di dunia industri informasi sebagai sebuah referensi bahkan sebagai model leadership dalam menjalankan sebuah projek besar sekalipun. 

Dunia, selain semakin tua, kini, menurut Prof. Dr. D. Hawari seorang psikiater ternama, dunia sedang memasuki era yang sungguh sangat luar biasa. Diantara produk modernitas abad kini, stress, depresi, atau tekanan kejiwaan beserta anatomis biologis yang lemah, yang berwatak irasionalitas dan inharmonis, ternyata bukan hanya melanda kaum mayoritas dewasa semata, ternyata anak belasan tahun pun sudah mengalaminya. Ini memang memprihatinkan. Selain karena faktor genetitas dan perjalanan riwayat kehidupannya, stressor atau depresan, bukan hanya saja sebagai sesuatu yang dianggap maklum dan dianggap biasa, ternyata juga bisa diobati. Tradisi religiusitas yang akrab ditelinga, kullu daain dawaaun, setiap penyakit selalu ada obatnya. Menejemen aktivitas dan waktu yang baik, asupan gizi yang cukup empat sehat lima sempurna, hidup bermasyarakat, tidak jauh dari kehidupan spiritual, tidur yang cukup tujuh atau delapan jam sehari, berolah raga yang teratur, bekerja sesuai dengan kemampuan, kiranya sungguh sebuah komposisi nada yang cukup ‘wah’.  [af]