Adam,
menurut perhitungan historis, karena kemampuan berbahasa, kedudukannya diangkat
Yang Maha Kuasa melebihi makhluk lainnya seperti malaikat, golongan syetan,
hingga makhluk hidup lainnya yang bernyawa dan tidak bernyawa. Akan tetapi
dalam waktu yang tidak lama, Nabi Adam pun mesti rela turun dari suwarga, karena
kelemahannya sebagai manusia, hanya karena Adam dan Hawa melanggar larangan Yang Maha
Kuasa untuk tidak mendekati buah khuldi sebagai symbol keabadian. Atas bujuk
rayu syetan, sejarah menceritakan bahwa Nabi Adam pun akhirnya tergiur dan
memakan buah tersebut, hingga tangis penyesalan pun mengiringinya hingga hari
demi hari. Namun atas kasih sayang Tuhan, penyesalan dan taubat Adam pun diterimaNya
dengan catatan Adam dan pasangannya Hawa mesti turun dari suwarga dan mengisi
kehidupan di bumi dengan kerja keras. Ini sungguh ironis seandainya dibandingkan
dengan kehidupan suwarga yang serba tersedia. Konon hanya dengan berdoa saja
apapun keinginan akan segera saja terkabul. Tidak perlu kerja keras, banting
tulang, atau sedikitpun keringat yang mengucur dari sekujur badan. Suwarga
adalah gambaran dimana tidak ada apapun yang tidak bermanfaat. Semua bermanfaat
dan tidak mengenal perjalanan waktu maupun batas.
Akan tetapi dunia, alam bumi yang disediakan Tuhan, menghendaki Adam beserta
keturunannya untuk memanfaatkan dunia sebaik-baiknya yang kemudian dikenal
sebagai amanah titipan, dimana gunung-gunung, binatang-binatang, hingga pepohonan pun diam
membisu tak sanggup menerima amanah tersebut selain hanya kesanggupan mahluk
bernama manusia. Setan pun dengan kesombongannya mengakui keberadaan manusia
yang hanya terbuat dari tanah dan segumpal darah. Hanya karena api merasa lebih
unggul dari tanah, perintah Tuhan agar syetan bersujud pada Adam meski terbuat
dari tanah, syetan menolaknya lalu berakhir dengan sebuah janji penggodaan terhadap
kehidupan Adam. Sejarah kemudian mencatat bahwa syetan dan manusia merupakan
makhluk yang saling berlawanan. Berbeda dengan malaikat yang tercipta dari
cahaya, keberadaan malaikat hanyalah sebagai penerima perintah yang super taat.
Tidak ada tolakan, bantahan, bahkan keangkuhan.
Waktu
pun terus bergulir. Peradaban, kebudayaan, dan tradisi yang terlahir kembali karena
kesadaran amanah dan komitmen terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, kesadaran akan kekuasaan Yang Maha Kuasa pun semakin meningkat. Cara
dan menghadapi kehidupan pun semakin lebih terbaca dan semakin beragam meskipun
beban menghadapi kenyataan hidup pun tidaklah begitu ringan. Setiap generasi
pun terlahir dengan tingkat permasalahannya masing-masing. Mereka seolah-olah
terus menerima kenyataan bahwa amanah adalah bahasa yang semakin memiliki
bentuk dan kenyataan yang sangat teramat luas hampir berbanding lurus dengan kekayaan bahasa
yang dikenal di dunia ini. [af, dbs]