Statistik Blog

Sabtu, 08 Maret 2014

Antara Adam, Bahasa, dan Amanah


 
Adam, menurut perhitungan historis, karena kemampuan berbahasa, kedudukannya diangkat Yang Maha Kuasa melebihi makhluk lainnya seperti malaikat, golongan syetan, hingga makhluk hidup lainnya yang bernyawa dan tidak bernyawa. Akan tetapi dalam waktu yang tidak lama, Nabi Adam pun mesti rela turun dari suwarga, karena kelemahannya sebagai manusia, hanya karena Adam dan Hawa melanggar larangan Yang Maha Kuasa untuk tidak mendekati buah khuldi sebagai symbol keabadian. Atas bujuk rayu syetan, sejarah menceritakan bahwa Nabi Adam pun akhirnya tergiur dan memakan buah tersebut, hingga tangis penyesalan pun mengiringinya hingga hari demi hari. Namun atas kasih sayang Tuhan, penyesalan dan taubat Adam pun diterimaNya dengan catatan Adam dan pasangannya Hawa mesti turun dari suwarga dan mengisi kehidupan di bumi dengan kerja keras. Ini sungguh ironis seandainya dibandingkan dengan kehidupan suwarga yang serba tersedia. Konon hanya dengan berdoa saja apapun keinginan akan segera saja terkabul. Tidak perlu kerja keras, banting tulang, atau sedikitpun keringat yang mengucur dari sekujur badan. Suwarga adalah gambaran dimana tidak ada apapun yang tidak bermanfaat. Semua bermanfaat dan tidak mengenal perjalanan waktu maupun batas.
Akan tetapi dunia, alam bumi yang disediakan Tuhan, menghendaki Adam beserta keturunannya untuk memanfaatkan dunia sebaik-baiknya yang kemudian dikenal sebagai amanah titipan, dimana gunung-gunung,  binatang-binatang, hingga pepohonan pun diam membisu tak sanggup menerima amanah tersebut selain hanya kesanggupan mahluk bernama manusia. Setan pun dengan kesombongannya mengakui keberadaan manusia yang hanya terbuat dari tanah dan segumpal darah. Hanya karena api merasa lebih unggul dari tanah, perintah Tuhan agar syetan bersujud pada Adam meski terbuat dari tanah, syetan menolaknya lalu berakhir dengan sebuah janji penggodaan terhadap kehidupan Adam. Sejarah kemudian mencatat bahwa syetan dan manusia merupakan makhluk yang saling berlawanan. Berbeda dengan malaikat yang tercipta dari cahaya, keberadaan malaikat hanyalah sebagai penerima perintah yang super taat. Tidak ada tolakan, bantahan, bahkan keangkuhan.
Waktu pun terus bergulir. Peradaban, kebudayaan, dan tradisi yang terlahir kembali karena kesadaran amanah dan komitmen terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran akan kekuasaan Yang Maha Kuasa pun semakin meningkat. Cara dan menghadapi kehidupan pun semakin lebih terbaca dan semakin beragam meskipun beban menghadapi kenyataan hidup pun tidaklah begitu ringan. Setiap generasi pun terlahir dengan tingkat permasalahannya masing-masing. Mereka seolah-olah terus menerima kenyataan bahwa amanah adalah bahasa yang semakin memiliki bentuk dan kenyataan yang sangat teramat luas hampir berbanding lurus dengan kekayaan bahasa yang dikenal di dunia ini. [af, dbs]